Notification

×

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jembatan Ambruk, Program Cetak Sawah di PALI Terancam Mandek

Minggu, 05 April 2026 | April 05, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-05T07:42:41Z

PALI Ekspres | Program ambisius cetak sawah yang digadang sebagai tulang punggung ketahanan pangan nasional di era Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan retaknya fondasi di lapangan besar dalam janji, lemah dalam eksekusi.


Di Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, program yang seharusnya membuka masa depan justru tersandung persoalan paling elementer akses yang lumpuh total.


Jembatan Sungai Sangkut, satu-satunya penghubung antara Desa Muara Ikan dan Desa Kota Baru, ambruk diterjang banjir usai hujan deras selama dua malam. Dampaknya bukan sekadar infrastruktur rusak, melainkan terputusnya denyut aktivitas pertanian warga.


Di tengah gencarnya narasi swasembada pangan, realitas di lapangan justru menampilkan ironi yang sulit dibantah.

“Cetak sawah. Ke sawah saja kami tidak bisa,” ujar seorang warga dengan nada getir.


Di lokasi, derasnya arus Sungai Sangkut membawa kayu gelondongan yang menyumbat aliran. Alat berat yang semestinya mencetak sawah kini beralih fungsi membersihkan hambatan yang seharusnya bisa diantisipasi sejak awal. Itu pun terbatas di sisi yang masih bisa dijangkau.


Sepeda motor tak bisa melintas, apalagi alat berat bernilai miliaran rupiah. Warga pun terpaksa membangun jembatan darurat dari batang pohon bukan sebagai inovasi, melainkan simbol keterpaksaan di tengah ketiadaan negara.


Kepala Desa Kota Baru, Yusri Qolbi, membenarkan bahwa jembatan hanyut akibat luapan Sungai Sangkut setelah hujan intens.


“Hujan deras mengakibatkan air meluap dan jembatan hanyut,” ujarnya, Minggu (05/04/2026).


Namun persoalan ini tidak berhenti pada faktor alam. Ini tentang perencanaan yang abai. Tentang bagaimana proyek strategis bisa berjalan tanpa menjamin kesiapan infrastruktur dasarnya.


Atau jangan-jangan, jembatan memang tidak pernah masuk dalam prioritas. Lebih memprihatinkan, hingga berita ini diturunkan, warga mengaku belum melihat kehadiran nyata pemerintah daerah baik dari kabupaten maupun provinsi. Tidak ada langkah darurat, tidak ada kepastian pembangunan ulang, bahkan sekadar tanda bahwa persoalan ini sedang ditangani.


Padahal, jembatan tersebut bukan sekadar akses fisik. Ia adalah urat nadi ekonomi. Tanpanya, sawah terbengkalai, kebun tak terurus, dan roda ekonomi warga berhenti berputar.


Program cetak sawah yang di atas kertas terlihat menjanjikan, di Sungai Sangkut justru berubah menjadi potret kegagalan awal, perencanaan tanpa kesiapan, ambisi tanpa fondasi.


Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka target swasembada pangan berpotensi menjadi sekadar retorika tenggelam bahkan sebelum musim tanam dimulai.


Sementara itu, warga tetap bertaruh nyawa meniti batang pohon untuk menyeberang. Menunggu satu hal yang hingga kini belum pasti, apakah negara akan benar-benar hadir, atau hanya sekadar hadir dalam pidato. (In)

×
Berita Terbaru Update