Notification

×

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ironi Negeri Minyak: Guru SDN 43 Talang Ubi Jatuh Bangun Demi Mengajar

Rabu, 06 Mei 2026 | Mei 06, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-06T07:02:45Z

PALI Ekspres | Potret miris kembali terlihat di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Sejumlah guru SDN 43 Talang Ubi harus jungkir balik dan terjatuh dari sepeda motor saat menuju sekolah akibat jalan licin dan berlumpur usai diguyur hujan.


Ironisnya, lokasi kejadian hanya sekitar 100 meter dari kawasan sumur minyak dan gas terbesar di wilayah tersebut.


Peristiwa itu terjadi di Dusun IV Talang Kampai, Desa Benuang, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten PALI. Dalam video yang beredar di media sosial, lima guru perempuan tampak jatuh bangun saat melintasi jalan tanah yang becek dan licin menuju SDN 43 Talang Ubi.


Meski pakaian mereka dipenuhi lumpur dan beberapa sepeda motor terguling, para guru tersebut tetap berusaha melanjutkan perjalanan sambil sesekali bercanda. Kondisi itu seolah menjadi rutinitas yang sudah biasa mereka hadapi setiap hari.


Kepala SDN 43 Talang Ubi, Armansyah SPd, membenarkan bahwa para perempuan dalam video tersebut merupakan guru di sekolah yang dipimpinnya.


“Dari delapan guru di sini, hanya satu orang yang asli warga sini. Sisanya berasal dari desa lain, bahkan ada yang dari Desa Prambatan, Kecamatan Abab. Jadi jalan rusak bukan halangan bagi kami. Setiap hari kami lalui. Kami tetap semangat,” ujar Armansyah.


Menurutnya, medan berat menuju sekolah sudah menjadi tantangan sekaligus bentuk pengabdian bagi para tenaga pendidik di daerah tersebut.


Keluhan serupa disampaikan Waeb Jamel (50), warga Dusun Talang Kampai yang sehari-hari bekerja sebagai sopir angkutan pelajar SMP dan SMA. Ia mengaku kondisi jalan rusak dan berlumpur sudah menjadi “makanan sehari-hari” bagi warga.


“Anak-anak sekolah banyak yang tidak berani membawa motor sendiri karena jalannya terlalu berat,” katanya.


Waeb menjelaskan, jalan menjadi semakin becek karena tidak memiliki drainase di sisi jalan sehingga air hujan menggenang. Selain itu, jalan tersebut juga sudah lama tidak mendapat pengerasan.


“Sejak saya lahir, jalan di sini memang seperti ini. Padahal daerah ini penghasil minyak terbesar di PALI. Bahkan lokasi guru jatuh itu dekat sekali dengan sumur B2 Benuang penghasil gas terbesar,” ujarnya.


Ia pun mempertanyakan manfaat hasil kekayaan migas yang selama ini diambil dari wilayah mereka.


“Entah ke mana larinya duit hasil minyak di sini. Kami tetap tidak menikmati jalan bagus. Padahal kata orang Pertamina, sumur di sini itu harta karun,” tambahnya.


Sorotan juga datang dari pemerhati kebijakan publik Kabupaten PALI, Indra Setia Haris. Ia menilai Dusun Talang Kampai sebagai wilayah penghasil migas seharusnya menjadi prioritas pembangunan, baik oleh pemerintah maupun perusahaan migas.


“Setiap hari, dari dua sumur yakni B1 dan B2 Benuang di lokasi itu bisa menghasilkan sedikitnya Rp5 miliar per hari. Dalam setahun sekitar Rp1,8 triliun. Tapi apa yang didapat masyarakat? Jalan becek dan kemiskinan,” kata Indra.


Ia meminta Pemerintah Kabupaten PALI lebih bijak dalam menggunakan Dana Bagi Hasil (DBH) Migas dengan memprioritaskan pembangunan infrastruktur di desa-desa penghasil minyak dan gas.


“Pertamina juga harus ikut bertanggung jawab. Sudah tahu desa itu penghasil migas, minimal lakukan perawatan jalan,” tegasnya.

Sementara itu, Corporate Communication Pertamina Hulu Rokan, Dhio Faiz Syahril, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp mengaku akan menindaklanjuti informasi tersebut.

“Baik, terima kasih informasinya. Saya bantu teruskan ke tim terkait ya,” tulis Dhio singkat. (*)

×
Berita Terbaru Update