Notification

×

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jaga Budaya Lokal, Pertamina EP Limau Field Bina Rumah Batik Khaman

Jumat, 10 Juli 2026 | Juli 10, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-10T11:14:18Z

Muara Enim | Di tengah derasnya arus globalisasi, budaya lokal perlahan mulai tersisih oleh gempuran budaya asing. Batik, sebagai salah satu warisan budaya Indonesia, pun tak luput dari ancaman untuk terlupakan, terutama di kalangan generasi muda sekarang.


Namun, harapan itu tumbuh dari Desa Lubuk Raman, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim. Melalui Rumah Batik Khaman binaan Pertamina EP (PEP) Limau Field, upaya melestarikan sekaligus menumbuhkan kembali kecintaan masyarakat terhadap batik.


Batik Khaman lahir dari filosofi buah khaman, tanaman yang tumbuh di wilayah Desa Lubuk Raman. Nama tersebut kemudian diabadikan sebagai identitas batik yang dipadukan dengan motif bergambar senjata tradisional peninggalan nenek moyangnya.


"Batik sering dianggap kuno. Karena itu, kami terus berinovasi melalui kolaborasi desain sesuai keinginan pembeli, tanpa menghilangkan ciri khas Batik Khaman," Ungkap Etika Oktasari, S.P., Ketua Kelompok Batik Khaman pada Jumat (10/7/2026)


Etika Oktasari menjelaskan, pembinaan di Rumah Batik Khaman dari Pertamina EP Limau Field tidak hanya berfokus pada keterampilan membatik, tetapi juga mencakup pelatihan kuliner, pengolahan pewarna alami dari tumbuhan serta kerajinan anyaman.


"Ada tiga kelompok binaan selain Batik Khaman, yakni kelompok kerajinan anyaman bambu, kelompok pengolahan pewarna alami dari tumbuhan, dan kelompok kuliner. Masing-masing kelompok dipimpin oleh seorang ketua yang bertanggung jawab mengembangkan kegiatan sesuai bidangnya,"jelasnya 


Etika mengatakan, selain meningkatkan keterampilan para anggota, kelompok binaan juga terus didorong memperluas jangkauan pasar. Upaya tersebut mulai membuahkan hasil dengan meningkatnya penjualan dan semakin dikenalnya.


"Omzet memang belum menentu, tetapi belakangan terus meningkat. Alhamdulillah, produk kami rutin diikutsertakan dalam berbagai pameran hingga tingkat nasional. Pemasaran juga kami lakukan melalui Shopee, Instagram, dan Facebook," katanya.


Manajer Pertamina EP Limau Field, Abdul Rachman Para Buana, mengatakan keberhasilan Rumah Batik Khaman merupakan hasil kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat. Menurutnya, sinergi tersebut menjadi kunci dalam mendorong pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi.


"Kami melihat kolaborasi ini berjalan sangat baik. Pemerintah, perusahaan, dan masyarakat saling mendukung sehingga program pemberdayaan seperti Rumah Batik Khaman dapat terus berkembang. Ini menjadi kebanggaan bagi kami," kata Abdul Rachman Para Buana.


Ia menilai Rumah Batik Khaman memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Selain telah memiliki tiga kelompok binaan dengan puluhan penerima manfaat, produk yang dihasilkan juga dinilai mampu bersaing di pasar yang lebih luas.


"Jangan takut bermimpi besar. Saya pernah mendampingi kelompok binaan yang produknya berhasil menembus pasar ekspor. Harapan kami, suatu saat nanti produk Rumah Batik Khaman juga bisa mencapai hal yang sama," ujarnya.


Menurut Manajer Pertamina EP Limau Field, kualitas produk UMKM binaan sudah cukup baik. Karena itu, Pertamina akan terus mendorong perluasan pemasaran, termasuk melalui platform digital, agar produk-produk Rumah Batik Khaman semakin dikenal masyarakat.


"Produknya sudah bagus, tinggal bagaimana memperluas pasarnya. Kami akan terus berupaya mendukung agar Rumah Batik Khaman bisa berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas,"ungkapnya.


Semantara itu Henkri Triansa, A.Md. Kepala Desa Lubuk Raman mengatakan, pemerintah desa terus mendukung pengembangan Batik Khaman dan produk UMKM lainnya melalui berbagai kegiatan promosi dan pameran yang digelar mulai dari tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten.


"Untuk meningkatkan omzet, kami terus memfasilitasi UMKM mengikuti berbagai event dan pameran. Itu menjadi salah satu strategi pemasaran selain penjualan secara online. Alhamdulillah, saat ini pendapatan para perajin Batik Khaman cukup signifikan, rata-rata berkisar Rp2 juta hingga Rp3 juta per bulan," katanya.(Dewa)

×
Berita Terbaru Update