Oleh: MD Bojes
Di negeri ini, semakin banyak orang yang mendadak menjadi pemimpin. Mendadak pula menjadi aktivis. Bukan karena kapasitas, melainkan karena kesempatan. Bukan karena integritas, tetapi karena momentum. Mereka lahir dari keramaian, bukan dari pengabdian. Tumbuh dari sorotan kamera, bukan dari penderitaan rakyat.
Seperti buah muda yang dipaksa matang dengan karbit: kulitnya mengilap, tetapi isinya kosong.
Fenomena pimpinan karbitan kian nyata. Mereka sibuk membangun pencitraan dan alergi terhadap kritik. Pandai berbicara visi, tetapi gagap dalam eksekusi. Rajin menjanjikan perubahan, namun malas mempertanggungjawabkan kebijakan. Kekuasaan dirawat, amanah diabaikan. Program disusun bertumpuk-tumpuk, tetapi dampaknya kerap tak terasa. Janji kampanye berderet rapi, sementara realisasi berjalan terseret-seret. Rakyat dijadikan slogan, kekuasaan dijadikan tujuan.
Di sisi lain, lahir pula aktivis karbitan. Aktivisme perlahan berubah menjadi panggung. Mereka lebih mencintai sorotan daripada perjuangan. Lebih hafal algoritma media sosial daripada denyut kehidupan rakyat.
Turun ke lapangan hanya saat kamera menyala, lalu menghilang ketika masyarakat benar-benar membutuhkan. Penderitaan dijadikan konten, kemarahan publik dijadikan komoditas, dan perjuangan direduksi menjadi batu loncatan karier.
Yang paling memprihatinkan, mereka kerap merasa paling benar. Siapa yang berbeda dianggap musuh. Siapa yang kritis dicap pengganggu. Siapa yang tidak sejalan segera disingkirkan. Inilah tragedi terbesar bangsa: ketika yang dangkal diberi panggung, sementara yang tulus justru disuruh diam.
Ironisnya, pimpinan karbitan dan aktivis karbitan sering kali saling membutuhkan. Yang satu memerlukan legitimasi moral agar tampak berpihak pada rakyat. Yang lain membutuhkan panggung, akses, dan fasilitas. Dalam simbiosis kepentingan itu, rakyat kembali menjadi penonton setia dari sandiwara kekuasaan.
Padahal, kepemimpinan bukan sekadar jabatan, dan aktivisme bukan tentang popularitas. Keduanya adalah soal keberanian mengambil posisi, kesetiaan pada nurani, serta kesediaan berjalan bersama penderitaan masyarakat. Pemimpin sejati ditempa oleh waktu dan diuji oleh konsistensi. Aktivis sejati lahir dari kegelisahan batin, bukan dari pesanan proyek.
Ketika pemimpin lahir dari karbit kekuasaan dan aktivis tumbuh dari transaksi kepentingan, jangan heran bila keadilan terus tertunda dan kesejahteraan hanya menjadi bahan pidato.
Negeri ini sesungguhnya tidak kekurangan orang pintar. Yang langka adalah orang jujur. Kita tidak kekurangan tokoh, tetapi krisis teladan. Karena itu, masyarakat perlu lebih waspada. Suara paling lantang sering kali berasal dari niat paling dangkal. Janji paling manis kerap menutupi kepentingan paling busuk. Pahit belum tentu racun, dan manis belum tentu obat.
Masa depan generasi terlalu mahal untuk diserahkan kepada pemimpin dan aktivis hasil karbitan. Sudah saatnya kita memberi ruang kepada mereka yang matang oleh proses, bukan yang naik karena sensasi. Kepemimpinan sejati lahir dari konsistensi, keberanian berpihak, dan kesetiaan pada nurani—bukan dari popularitas sesaat.



