Notification

×

Indeks Berita

Tag Terpopuler

‎Siasat Licik Pertamina Bungkam Desa Kritis, Calon Sekuriti Di Fitnah Ijazah Palsu

Selasa, 26 Mei 2026 | Mei 26, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-26T10:33:25Z

PALI Ekspres |  Barangkali beginilah rasanya menjadi rakyat kecil di negeri yang katanya membuka lapangan kerja. Setelah lolos tahap wawancara dan dinyatakan lanjut ke tahap terakhir yaitu Medical Check Up (MCU), tiba-tiba mimpi itu dipatahkan hanya lewat selembar keputusan sepihak. Secepat itu masa depan seseorang diputuskan.

‎Sabtu sore itu, langkah Dimas Irawan Saputra terasa berat saat berjalan pulang menuju rumahnya di Desa Curup, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten PALI. Wajahnya murung. Matanya berkaca-kaca. Sebagai laki-laki, ia mencoba menahan air mata yang sedari tadi memberontak ingin jatuh.

‎Bukan karena kehilangan jabatan besar. Bukan karena gagal menjadi direktur. Dimas hanya ingin menjadi sekuriti Pertamina. Pekerjaan yang bagi sebagian orang mungkin dianggap biasa saja, tapi bagi pemuda desa seperti dirinya, itu adalah harapan untuk mengangkat ekonomi keluarga dan menghentikan ibunya dari bekerja terlalu keras.

‎Ia bahkan sudah sempat memberi kabar bahagia kepada Neneknya. Bahwa dirinya lulus tahap wawancara tinggal tahap terakhir yaitu Medical Check Up, yang secara logika sudah 90% dinyatakan lulus. 

‎Namun rupanya, di negeri ini harapan rakyat kecil memang terlalu murah untuk dihancurkan.

‎Bak petir di siang bolong, Dimas mendadak menerima kabar bahwa ijazahnya diragukan keasliannya. Ijazah kursus yang diperoleh secara legal itu dianggap palsu. Tanpa pembuktian terbuka, Kelulusannya langsung dibatalkan.

‎“Ini fitnah paling kejam. Ijazah kami diragukan keasliannya. Dan kami dianggap gugur.” ujar Dimas dengan nada lesu, Sabtu (24/05/2026).

‎Yang lebih ironis, proses verifikasi dokumen seharusnya sudah dilakukan sejak tahap awal seleksi. Tapi entah bagaimana ceritanya, dokumen yang awalnya lolos tiba-tiba berubah menjadi “bermasalah” setelah peserta sudah melalui banyak tahapan dan tersisa satu tahapan lagi. 

‎Mungkin beginilah standar profesionalisme yang baru. Lolos dulu, beri harapan dulu, buat keluarga bangga dulu, lalu gugurkan mendadak ketika semuanya sudah terlanjur percaya.

‎Dimas tidak sendirian. Rekannya sesama warga Desa Curup, Jeksen Jaya, juga mengalami nasib serupa. Alumni SMA YPNH Tanah Abang itu mendadak dinyatakan gugur karena ijazahnya ikut diragukan keasliannya.

‎Dua pemuda desa yang sudah sempat menggantungkan masa depan di depan mata, kini dipaksa menelan kenyataan pahit tanpa penjelasan yang benar-benar terang.

‎Kejadian ini memantik kemarahan Ketua Aliansi Pemuda Pemudi PALI (AP3), Abu Rizal. Ia menilai tindakan Pertamina Adera bukan sekadar keteledoran administrasi, melainkan bentuk kesewenang-wenangan yang melukai masyarakat kecil.

‎“Kami sudah melayangkan surat ke Pertamina Adera. Kami minta surat pembatalan warga Desa Curup dicabut,” tegas Rizal.

‎Menurutnya, jika memang ada dugaan ijazah palsu, seharusnya pihak perusahaan melakukan verifikasi langsung ke perusahan terkait, bukan malah menjatuhkan vonis sepihak setelah peserta dinyatakan lanjut ke tahap terakhir.

‎“Tahapan seleksi dokumen sudah dilakukan saat seleksi tahapan awal. Kalau dianggap palsu kenapa baru sekarang kelulusannya dibatalkan?.” ujarnya.

‎Ijal Bakrie (sapaan akrabnya) bahkan mengancam akan melakukan aksi penutupan semua kegiatan pertamina di wilayah Desa Curup jika dalam waktu 3x24 jam tidak ada kejelasan dari pihak perusahaan.

‎“Kita beri waktu 3x24 jam kepada Pertamina untuk meluruskan persoalan ini. Jangan sampai rakyat marah karena dipermainkan,” tegasnya.

‎Sebab bagi warga desa, ini bukan lagi sekadar soal pekerjaan. Ini soal harga diri. Soal mimpi anak-anak kampung yang seolah selalu mudah dicurigai, mudah disingkirkan, dan mudah dipatahkan.

‎Ijal menduga, fitnah keji ini sengaja dihembuskan untuk membungkam para pemuda Desa Curup yang sering mengkritisi isu lingkungan hidup dan KKN di Pertamina Adera.

‎Dan mungkin memang begitulah nasib rakyat kecil di sekitar ladang minyak: tanahnya diambil, hasil buminya diangkut, tapi ketika anak desanya mencoba ikut bekerja, yang datang justru kecurigaan.(Red)

×
Berita Terbaru Update