PALI Ekspres | Pembangunan Jembatan Desa Tempirai menuju Proteksindo, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, menjadi sorotan. Proyek yang dibiayai APBD PALI 2026 dengan nilai kontrak Rp6,985 miliar itu mendapat perhatian terkait mutu beton, pondasi bore pile, keselamatan pekerja hingga progres pekerjaan di lapangan.
Proyek tersebut dikerjakan CV Adipati Jaya Mandiri dengan masa pelaksanaan 180 hari kalender. PALI Ekspres kemudian menelusuri kondisi pekerjaan di lapangan dan meminta penjelasan resmi kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) PALI.
Dalam pantauan terbaru, aktivitas pekerjaan di lokasi terlihat tidak berlangsung. Tidak tampak ada kegiatan konstruksi yang berarti. Kondisi ini menjadi catatan tersendiri karena proyek masih berada dalam masa pelaksanaan kontrak.
Sorotan sebelumnya muncul pada pekerjaan beton. Di lokasi, proses pengadukan beton terlihat menggunakan concrete mixer atau molen dan dilakukan langsung di area proyek tanpa Packing Plan. Pada bagian beton yang telah mengeras, secara visual terlihat ada bagian yang mudah remuk dan kurang padat.
Kondisi tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan beton tidak memenuhi standar. Namun, temuan lapangan itu menimbulkan pertanyaan mengenai proses pencampuran, pemadatan dan pengendalian mutu beton.
Dalam surat balasannya, Dinas PUTR menjelaskan penggunaan concrete mixer memang diterapkan untuk pengecoran bore pile berdiameter 500 milimeter dengan mutu beton fc’ 20 MPa. Kapasitas alat disebut 0,3–0,6 meter kubik dan penggunaannya disesuaikan dengan analisa harga satuan.
Dinas PUTR juga menyebut penyedia telah membuat Design Mix Formula (DMF) yang diuji di laboratorium. Hasilnya kemudian diterapkan menjadi Job Mix Formula (JMF) sebagai acuan pengecoran di lapangan.
Setiap pengecoran, menurut Dinas PUTR, dilakukan slump test dan pembuatan benda uji kubus. Sampel kemudian diuji di laboratorium untuk mengetahui kuat tekan beton pada umur 28 hari.
Dinas PUTR menjelaskan beton yang terlihat kurang padat merupakan beton lantai kerja dengan mutu fc’ 10 MPa. Beton tersebut disebut bukan struktur utama, melainkan lapisan dasar sebelum pondasi struktural.
Adapun beton struktur fc’ 30 MPa digunakan untuk abutment, plat injak, lantai jembatan, wing wall dan sandaran jembatan dengan menggunakan Concrete Mixing Plant.
Penjelasan itu menjawab sebagian persoalan. Namun, pengendalian mutu pada akhirnya harus dibuktikan melalui hasil pengujian. Jika slump test, JMF dan uji kuat tekan 28 hari benar-benar dilakukan, hasilnya menjadi ukuran apakah beton yang terpasang sesuai dengan mutu yang dipersyaratkan.
Persoalan lain berada pada pondasi bore pile. Dinas PUTR menyebut pondasi jembatan dirancang sedalam 18 meter, berdiameter 500 milimeter dengan mutu beton fc’ 20 MPa.Hingga surat tanggapan dibuat, pengecoran bore pile disebut baru selesai pada satu sisi abutment dengan 15 titik pondasi.
Sementara dalam pengamatan PALI Ekspres, terlihat rangka bore pile dengan behel yang membentang sekitar 12 meter tanpa sambungan.Temuan tersebut belum cukup untuk menyatakan adanya ketidaksesuaian. Namun, perbedaan ukuran yang terlihat di lapangan dengan kedalaman 18 meter dalam rencana tetap perlu dipastikan melalui gambar kerja dan spesifikasi teknis.
Termasuk bagaimana sambungan tulangan dibuat dan bagaimana rangka tersebut dipasang hingga memenuhi kedalaman pondasi yang direncanakan. Hal ini penting karena bore pile merupakan bagian utama pondasi yang berada di bawah tanah. Setelah pekerjaan ditutup, pemeriksaan terhadap bagian tersebut menjadi jauh lebih sulit.
Dari pengawasan tak cukup di atas kertas namun Dinas PUTR menyatakan PPK, PPTK dan pengawas lapangan melakukan pemeriksaan terhadap kontrak, gambar rencana, spesifikasi teknis, mutu beton, besi tulangan serta pekerjaan struktur bawah dan atas jembatan.
Pengujian teknis seperti slump test juga disebut menjadi bagian dari pengawasan. Namun, persoalannya bukan sekadar apakah pengawasan tercantum dalam dokumen. Yang lebih penting adalah apakah pengawasan tersebut benar-benar mampu memastikan pekerjaan sesuai dengan rencana.
Jika mutu beton diuji, hasilnya harus dapat dibuktikan. Jika JMF menjadi acuan, campuran di lapangan harus sesuai. Jika pondasi dirancang 18 meter, pelaksanaannya harus dapat diverifikasi. Pengawasan proyek publik tidak seharusnya berhenti pada laporan. Hasil pengawasan harus terlihat pada kualitas pekerjaan di lapangan.
Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) juga menjadi perhatian. Dalam pantauan di lokasi, masih terlihat pekerja yang tidak menggunakan helm keselamatan. Penanganan material pembesian dengan bobot besar juga tidak mengunakan metode pengangkatan yang aman.
Dinas PUTR menyatakan K3 menjadi bagian dari pengawasan. Untuk peralatan, dinas menyebut bore pile machine digunakan untuk pekerjaan pondasi, excavator untuk pekerjaan tertentu termasuk positioning pembesian, sedangkan mobile crane digunakan untuk loading, unloading dan positioning segmen jembatan.
Namun, keberadaan alat dalam metode kerja belum cukup. Penerapannya harus terlihat saat pekerjaan berlangsung dan mampu menjamin keselamatan pekerja. Dalam pantauan PALI Ekspres di lapangan, mobile crane yang disebut Dinas PUTR digunakan untuk pekerjaan loading dan pengangkatan tidak terlihat berada di lokasi.
Sementara material pembesian dengan bobot ratusan kilogram sudah berada di bawah area pekerjaan. Kondisi ini menunjukkan penerapan metode kerja dan aspek K3 di lapangan masih perlu diperketat penurunan pembesin Jembatan Lama di duga tidak mengutamakan mobile crane.
Dinas PUTR juga menjelaskan mengenai jembatan pipa lama di lokasi proyek. Menurut dinas, pihaknya telah menyurati PT Pertamina sebelum pembangunan dimulai untuk meminta kejelasan status kepemilikan pipa besi bekas jembatan. Namun hingga pekerjaan berlangsung, balasan dari Pertamina disebut belum diterima.
Material jembatan lama kemudian dibongkar, dikumpulkan, didata dan diamankan. Dinas PUTR menyatakan material tersebut rencananya diserahkan kepada pemerintah desa agar dapat dimanfaatkan masyarakat.
Balasan Dinas PUTR telah memberikan penjelasan mengenai metode pekerjaan, mutu beton, pondasi, penggunaan peralatan dan pengawasan. Namun penelusuran terhadap proyek ini belum selesai.
Hasil slump test, uji kuat tekan beton 28 hari, JMF, gambar detail bore pile, dokumentasi pengawasan dan progres pekerjaan masih menjadi bagian penting yang perlu ditelusuri.Terlebih, aktivitas pekerjaan terbaru di lokasi terlihat tidak berjalan.
Tim investigasi PALI Ekspres akan terus memantau perkembangan proyek tersebut, tidak hanya berdasarkan laporan tertulis, tetapi juga kondisi fisik di lapangan. Setiap perkembangan akan ditelusuri dan dikonfirmasi kepada pihak terkait.(Dewa)


