PALI Ekspres | Momen Lebaran selalu menjadi ajang mempererat silaturahmi antar elemen organisasi. Hal itu juga dilakukan oleh DPW Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sumatera Selatan.
Namun, ada pemandangan unik dalam kegiatan halal bihalal yang digelar di kediaman Ketua DPW PSI Sumsel, Heri Amalindo. Bukan hanya kader partai, rumahnya justru “diserbu” emak-emak bersama anak-anak mereka.
Acara yang berlangsung pada Lebaran kelima, Rabu (25/03/2026), digelar di kawasan Simpang Raja, Kelurahan Handayani Mulia, Kabupaten PALI. Ratusan kader dari tingkat ranting (desa), kecamatan, hingga kabupaten tampak memadati lokasi.
“Momen Lebaran ini kita jadikan ajang konsolidasi. Sebagai partai baru di Kabupaten PALI, kita pererat silaturahmi dalam keluarga besar PSI,” ujar Heri Amalindo, yang juga merupakan doktor lulusan Unsri.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua DPD PSI Kabupaten PALI, Iskandar Anwar SE, serta Ketua DPD Gajah Muda Nusantara (GMN) Kabupaten PALI, Darmadi MN, bersama seluruh kader PSI se-Kabupaten PALI.
Di tengah suasana hangat penuh kekeluargaan, muncul fenomena tak biasa. Puluhan emak-emak datang bersama suami dan anak-anak mereka bahkan ada yang satu motor berboncengan lima orang di bawah terik matahari.
Salah satunya Anis, warga Talang Puyang. “Kami sudah lama tidak bertemu Pak Heri, sudah rindu sekali. Tadi ada yang posting di Facebook kalau Pak Heri open house, makanya kami datang,” ujarnya.
Hal serupa diungkapkan Iyan, warga Lorong Asrama, yang datang bersama istri dan empat anaknya. Pedagang cilok itu mengaku ingin bersalaman sekaligus berfoto dengan Heri Amalindo.
“Kami merasa kehilangan sosok orang tua. Dulu waktu beliau menjabat bupati, setiap ada acara beliau selalu menghampiri dan menyalami kami. Padahal kami wong cilik, tapi beliau tulus,” katanya.
Menurut Iyan, pengalaman itu sangat membekas. Ia yang sehari-hari berjualan di acara hajatan mengaku Heri Amalindo selalu menyapa pedagang kecil.
“Makanya kami sangat terkesan. Sekarang beliau tidak menjabat lagi, kami merasa kehilangan. Momen ini mengobati rindu kami,” tambahnya.
Iyan bahkan membandingkan perlakuan yang pernah ia alami di daerah lain.
“Pernah kami disuruh geser jualan karena pejabat mau datang. Tapi Pak Heri justru menyapa kami. Itu yang bikin beliau spesial,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Yunita, yang datang membawa anak-anaknya.
“Kami bahagia bisa bertemu beliau. Ini seperti rumah sendiri, seperti rumah bapak kami. Beliau tidak sungkan menyapa, bahkan bisa nyanyi dan joget bersama warga,” ujarnya sambil tertawa.
Pantauan di lokasi, hingga pukul 17.30 WIB menjelang Maghrib, warga masih terus berdatangan dari berbagai wilayah.
Menariknya, banyak dari mereka mengaku tidak mendapat undangan resmi. Mereka mengetahui acara tersebut dari unggahan di media sosial.
Suasana pun terasa lebih seperti open house rakyat, bukan sekadar agenda internal partai.(Red)


