PALI Ekspres| Langit pagi di Desa Pengabuan, Kecamatan Abab, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), menjadi saksi bergeloranya semangat pemuda saat Forum Pemuda dan Mahasiswa Kecamatan Tanah Abang menggelar aksi demonstrasi di PT Pertamina Hulu Rokan Zona 4 Adera Field dalam sebagai wujud penyampaian aspirasi, pada Selasa (7 April 2026).
Aksi tersebut membawa tiga tuntutan utama yang selama ini dinilai belum terpenuhi secara maksimal: transparansi rekrutmen tenaga kerja lokal, membuka kembali rekrutmen tenaga keamanan secara terbuka dan transparan, serta keterbukaan informasi penyaluran dana Corporate Social Responsibility (CSR) bagi desa-desa di wilayah kerja produksi Pertamina Adera Field.
Puluhan massa pendemo yang berdatangan turut membawa baleho serta keranda mayat—replika simbolik sosok yang telah tiada—dengan tulisan bernada kritik keras “matinya keadilan”, seperti yang terlihat sebagai representasi kekecewaan mendalam, kemarahan yang terpendam, sekaligus seruan lantang agar keadilan benar-benar ditegakkan dan tidak sekadar menjadi slogan tanpa makna.
Sorotan tajam massa menilai, hingga kini akses masyarakat lokal terhadap peluang kerja di lingkungan perusahaan masih belum sepenuhnya terbuka. Mereka juga menyoroti minimnya keterlibatan tenaga lokal yang berada di wilayah kerja produksi perusahaan, yang seharusnya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Dalam orasinya, Hadi Prasmana, S.Kom menegaskan bahwa praktik rekrutmen yang selama ini berlangsung dinilai sarat ketertutupan, minim transparansi, dan terkesan eksklusif karena hanya beredar di kalangan tertentu, sehingga menimbulkan ketidakadilan bagi masyarakat lokal yang seharusnya memiliki kesempatan yang sama.
“Ini bukan sekadar soal pekerjaan, ini soal keadilan. Ketika informasi ditutup, maka kesempatan ikut tertutup. Masyarakat lokal hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri,” tegas Hadi di hadapan massa aksi, disambut semangatnya dengan sorakan dukungan dari para demonstran.
Muslim Abdurrasyid turut menyuarakan kritik tajam dengan menilai Pertamina gagal menjamin transparansi. Ia menegaskan bahwa sebagai perusahaan milik negara, Pertamina seharusnya menjadi teladan dalam penerapan prinsip keterbukaan, bukan justru menunjukkan hal yang sebaliknya.
“Dalam aksi ini, kami mengangkat sumpah perjuangan, dan perlu diingat bahwa kontraktor di bawah Pertamina bukanlah entitas privat yang bisa dengan bebas menutup informasi sesuka hati. Semua harus terbuka, transparan, dan dapat diawasi oleh publik,” ujar Muslim Abdurrasyid
Selain itu, Abu Rizal, S.Ag. menegaskan bahwa apabila tuntutan dalam aksi ini tidak direspons secara serius, maka berpotensi memicu gelombang aksi yang lebih besar sebagai bentuk desakan kuat demi terwujudnya kesetaraan dan keadilan bagi masyarakat.
“Kami tidak akan berhenti jika tuntutan ini diabaikan. Kami tidak meminta belas kasihan ini adalah hak masyarakat. Jika tidak direspons, kami siap menggelar aksi yang lebih besar, bahkan hingga ke SKK Migas pusat,” katanya Abu Rizal.
Sementara itu, perwakilan Humas Adera Field, Samuel, menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Field Manager dalam aksi tersebut. Ia mengakui bahwa berbagai aspirasi yang disampaikan massa merupakan masukan penting dan menjadi perhatian serius bagi perusahaan.
“Kami menerima seluruh aspirasi yang disampaikan. Ke depan, sistem rekrutmen akan terus diperbaiki dan disesuaikan dengan SOP yang berlaku. Proses rekrutmen juga telah dilakukan secara terbuka melalui Dinas Tenaga Kerja, serta akan melibatkan pemerintah desa, masyarakat, dan insan pers guna menjamin transparansi,” ujarnya.(dewa)


