Notification

×

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Firdaus Hasbullah: Puasa Mengajarkan Empati dan Persaudaraan

Kamis, 12 Maret 2026 | Maret 12, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-12T13:29:59Z

PALEMBANG, PALI Ekspres | Ramadhan sering dipahami sebagai ibadah menahan lapar, haus, dan hawa nafsu. Namun bagi Firdaus Hasbullah, makna puasa jauh lebih dalam daripada sekadar ritual fisik. Di balik rasa lapar yang datang sejak fajar hingga senja, tersimpan pelajaran besar tentang empati sosial—bagaimana manusia belajar merasakan kehidupan mereka yang hidup dalam keterbatasan.


Pandangan itu disampaikan Firdaus saat acara silaturahmi dan buka puasa bersama pengurus Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Sumatera Selatan di Hotel Harper Palembang, Kamis (13/03/2026).


Menurut Firdaus, Ramadhan adalah momentum ketika manusia diajak memahami kehidupan orang lain melalui pengalaman yang sama: lapar dan dahaga.


“Ketika adzan maghrib berkumandang kita berbuka bersama. Ketika sahur tiba kita bangun bersama. Saat lapar dan dahaga terasa, kita belajar merasakan apa yang selama ini dirasakan oleh saudara-saudara kita yang hidup dalam kekurangan,” ujarnya.

Ia menegaskan, di situlah nilai filosofis Ramadhan bekerja. Puasa, kata dia, bukan hanya latihan menahan diri, tetapi juga proses membangun kesadaran sosial dan memperkuat rasa persaudaraan di tengah masyarakat.


“Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar. Ramadhan adalah tentang menumbuhkan empati dan memperkuat rasa persaudaraan,” tegasnya.


Acara silaturahmi dan buka puasa bersama tersebut turut dihadiri Ketua Umum DPP PGK Bursah Zarnubi, Wakil Bupati Lahat Widya Ningsih SH MH, perwakilan Forkopimda Sumatera Selatan, aktivis mahasiswa, LSM, elemen kepemudaan, serta ratusan anak yatim piatu.


Dalam kesempatan yang sama, Bursah Zarnubi mengingatkan pentingnya persatuan nasional di tengah dinamika ekonomi global yang semakin tidak menentu.


Menurutnya, situasi geopolitik dunia yang mempengaruhi kondisi ekonomi global harus disikapi dengan memperkuat konsolidasi nasional dan persatuan di dalam negeri.


“Para pemuda harus bersatu, menjalankan peran sesuai profesinya, dan membangun kemandirian nasional. Dengan begitu, apa pun yang terjadi di dunia luar, bangsa kita mampu berdiri tanpa bergantung pada pihak lain,” ujar Bursah yang juga menjabat Bupati Lahat.


Ia menambahkan, persatuan tidak boleh dimaknai secara sempit. Generasi muda perlu memperluas komunikasi dengan berbagai elemen bangsa agar tercipta kerja sama yang kuat dalam membangun masa depan Indonesia.


“Bersatu bukan hanya dalam satu golongan. Kita harus membangun komunikasi dengan elemen bangsa yang lain agar semangat kebersamaan terus tumbuh,” katanya.


Kegiatan silaturahmi dan buka puasa bersama tersebut menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus ruang memperkuat semangat kebangsaan di kalangan generasi muda Sumatera Selatan. (Bj)

×
Berita Terbaru Update